11/07/2009

Rendahnya Kualitas pembantu Indonesia di Malaysia

Sedikit tulisan, sambungan dari "One Paid Day Off Campaign, Mustahil!" beberapa waktu lalu. Tulisan ini cukup panjang, bahkan masih ada satu seri lagi :) Duh, banyak amat yah?. Ini hanya pandanganku, sebagai objek, bukan mau menghakimi siapa-siapa. Cuma ingin berbagi pandangan, melihat dari berbagai sudut. Kalau ada saran, silakan di tulis di koment.

Sabtu malam, ketika Aku membuka-buka e-mail ada sebuah e-mail dari unimig Indonesia. Sewaktu membukanya, ada sebuah prolog dari Pak Ikbal (Presiden UNIMIG (Unoin Migrant), "Dear Mbak Eli, apakah bisa hadir dalam undangan ini, mewakili UNIMIG? karena saya besok pagi ke Medan, kalau bisa hadir bagus sekali untuk menambah wawasan, sekaligus mewakili UNIMIG dan menambah kenalan." Sudah jam sebelas malam lebih. Kebetulan, ahad itu, Aku memang hendak keluar rumah. Meskipun awalnya hendak berkunjung ke rumah teman maka, Aku merubah haluan untuk mengikuti undangan tersebut. Beruntung, ketika aku belum mengabarkan kedatanganku. Aku segera sms Pak Iqbal dan menyetujui untuk pergi. Sekaligus minta petunjuk arah pergi.

Esoknya, aku menuju ke sana, bertempat di Shah's Village Hotel, Petaling Jaya Selangor. Sebetulnya, ketika membaca forward e-maill tersebut Aku sudah ragu karena, semua dari tulisan e-maill itu bertuliskan bahasa Inggris. Jangan-jangan, forum pun berbahasa Inggris. Setelah sampai di sana, kecurigaanku terbukti. Dalam forum seminar itu menggunakan bahasa Inggris. Aku sungguh terkejut. Bermula dari pendaftaran, panitia telah menanayakan kepada ku menggunakan bahasa Inggris. Aku cuek aja berbahasa Melayu, toh orang tersebut faham. Dan aku, berkata kalau wakil dari UNIMIG. Panitia mahfum, kemudian menanyakan keberadaan pak Iqbal.

Aku mengambil tempat duduk terdekat dari pintu masuk. Kebetulan, di situ juga aku melihat wajah-wajah Melayu rasanya aku tak canggung. Setelah melihat dua deretan meja di sebelahku semua yang duduk di antara mereka berwajah India, China juga aku rasa bukan orang Melayu. Setelah perkenalan, baru aku mengetahui mereka berasal dari Filipina dan Mianmar. Terasa malu juga dalam hati, kenapa Pak Iqbal tidak memberikan undangan ini kepada yang lebih bijak, aka, ia memiliki kemampuan berbahasa Inggris? tapi, apapun aku tak menyesalinya. Buatku, ini pengalaman yang sangat berharga. Tema dalam seminar tersebut adalah, "INVITATION FOR THE LAUNCH OF DOMESTIC WORKERS’ CAMPAIGN TOOLKIT & CAPACITY BUILDING" Diskusi ini, sebetulnya menerusi diskusi sebelumnya "ONE PAID DAY OFF CAMPAIGN" yang aku sendiri tidak mengikuti. Dan di forum ini juga, aku bisa membuka mata, betapa rendahnya kualitas pembantu Indonesia di Malaysia.

Pembukaan dimulai, panitia sedikit menyediakan hiburan. Meskipun tidak seberapa suka dengan sajiannya, aku melirik juga empat orang perempuan yang menari dengan sangat sederhana sekali. Kalau melihat facenya, ia berwajah Indonesia asli dan salah seorang di antaranya berwajah India. Aku berbisik kepada orang sebelahku menanyakan kebenarannya. Dan, jawabannya tepat sekali, ia TKW Indonesia yang tersandung masalah sedangkan yang satunya berasal dari India dan sekarang sedang menunggu proses. Sementara, ia tinggal di Tenaganita (Sebuah NGO bergerak di bidang tenaga kerja bermasalah dan penyelenggara seminar).

Acara kembali dilanjutkan dengan sesi perkenalan. Aku memperkenalkan diri dengan menggunakan bahasa Indonesia dan berterus terang tidak bisa berbicara bahasa Inggris. mereka mahfum. Setelah sampai di hujung meja ke tiga, ketika orang-orang Filipina memperkenalkan dirinya, aku merasa kalau mereka bekerja di sektor rumah tangga. Tiba perkenalan pada empat perempuan penari tadi, mereka bicara tergagap-gagap. Bahkan, untuk berkata "Saya bekerja sebagai pembantu rumah" pun tersendat-sendat. Berbeda, sangat beda dengan orang-orang Filipina tadi. Ah, aku mulai membatin, perbedaan mulai terlihat jelas. Berkali-kali, hati kecil tertanya-tanya. Mengapa hanya kami di forum ini juga mengapa tak ada siapapun yang lebih bijak dari perwakilan kami. Ah, pertanyaan itu kubunuh cepat-cepat. Aku harus mengikuti seminar ini sampai selesai, baik faham ataupun tidak. Itu tekadku.

Salah seorang perempuan yang menari tadi, duduk di sebelahku. Di sela-sela acara aku menyelipkan kertas kepadanya, bertanya nama, asalnya juga pekerjaannya. Dan siapa dua orang temannya. Yudian Buraen namanya, ia berasal dari NTT dan kedua temannya berasal dari Jawa. Dia juga menunjukan temannya, yang tepat berada di bangku sebelahnya. Ia selalu menangis, konon, keluarganya di Indonesia terkena musibah gempa. Aku bertanya, apa iya dari Padang? Jawabnya iya. Bingung, padahal tadi menyebutnya dari jawa. Tapi, kalau aku lihat sejak tadi orang tersebut selalu berwajah muram, selama menari pun, ia kelihatan sangat terpaksa sekali. dan selama berjalannya diskusi, ia selalu menangis. (Kisah inilah yang akan ku tulis dalam cerita satu lagi)

Sebetulnya, aku banyak tidak memahami materi. Semua materi di sajikan dengan bahasa Inggris. Meskipun, sedikit banyak aku mengetahui hal-hal yang berkaitan. Tentang hak-hak pekerja yang terabaikan khususnya pembantu rumah tangga. Kasus penderaan, tidak di ayar gaji, tidak ada cuti, tidak diperbolehkan berhubungan dengan keluarga dan masih banyak lagi serangkaian langgaran para majikan kepada pekerjanya. Mengikuti dari kasus ke kasus, aku sungguh terenyuh. Betapa banyaknya TKW kita yang terampas haknya? Anehnya ketika pemateri menyajikan ulasannya dan membahas tentang keterkaitan tenaga kerja bermasalah dan kedutaan, banyak sekali yang pihak kedutaan tidak mengetahuinya.

Ini memang bukan kisah baru. Tapi, akankah kasus seperti ini yang selalu muncul untuk TKW Indonesia? khususnya di Malaysia. Selama tidak ada kerja sama yang baik, dari hari ke hari bahkan ke tahun beribu masalah TKW akan seperti ini. Hendaknya, perbaikan di mulai dari kualitas TKW sendiri sebelum di berangkatkan. Juga PR untuk para agent penyalur pekerja di Indonesia.

Sesi demi sesi terlewati. Aku banyak terdiam. Pun tatkala diskusi diadakan untuk menyelesaikan studi kasus yang diajukan. Untuk menyelesaikan sebuah masalah. Dua masalah yang melibatkan tenaga kerja berasal dari Indonesia dan India. Kedua-duanya, datang ke Malaysia melalui agen. Namun, nasib berkata lain ketika sampai di Malaysia mereka terombang-ambing setelah bekerja. mereka teraniaya, haknya terampas, janjinya tidak tertunaikan. Itulah hakikatnya, tidak sedikit yang telah sampai ke Malaysia pekerjaan dan gaji yang dijanjikan tidak sesuai. Berpindah-pindah majikan, majikan tidak berlaku adil, tidak membolehkan keluar, tidak boleh berhubungan dengan dunia lain, menyuruh masak babi kepada pekerja yang beragama Islam, bekerja lebih dari 12 jam, makan sehari sekali, pelechan seksual dan banyak lagi.

Dua kasus terbahas sudah. Masing-masing dari grup membentangkan kajian penyelidikan. Aku, masih tetap terdiam. hanya sebagai penonton. Ah, mirisnya. Andaikan aku mampu berbahasa Inggris. Andaian itu, tetap menari-nari tanpa kupinta. Sementara, aku terbengong-bengong saja menyaksikan grup dari Filipina. Setelah aku selidiki dan amati, mereka, sama sepertiku. Hanya sebagai pekerja rumah. tapi, lihatlah kemampuannya, lihatlah cara berbicaranya. Sangat educated. Berbeda, sangat beda dengan para pekerja dari Indonesia yang sama-sama pekerja rumah tangga.

Tersadar, betapa minimnya kualitas pembantu Indonesia di Malaysia. Memang, dari segala hal, Filipina lebih tinggi kualitasnya berbanding tenaga kerja Indonesia. Lihatlah, berapa gaji standar yang ditetapkan pemerintah Filipina lebih dari RM. 1000, sangat jauh dengan pekerja Indonesia yang hanya mencecah sekitar RM.400-500/bulan. Pun dari segi pendapatan majikan, majikan yang mengambil pekerja dari Filipina harus berpenghasilan lebih dari RM. 5000. Berbeda dengan majikan pekerja Indonesia yang hanya diwajibkan berpenghasilan RM.3000.

Melihat skill dan kemampuan mereka, aku memang kagum dan salut. Tak heran, ketika pemerintah Filipina bisa dengan mudahnya memberikan peraturan dengan tegas kepada kerajaan Malaysia untuk memberikan syarat dan ketentuan kerja juga gaji. Jauh sekali perbedaannya dengan pemerintah Indonesia. Persetujuan perjanjian antara pihak pemerintah Indonesia dan kerajaan Malaysia cenderung merugikan pekerja rumah tangga. Pekerja rumah tangga yang termasuk ke dalam pekerja informal, susah sekali untuk mendapatkan hak-haknya. Terutama, haknya untuk mendapatkan cuti.

Pemerintah Indonesia yang menginginkan gaji pekerja rumah Indonesia dinaikkan menjadi RM.800 mendapat kecaman berbagai pihak di Malaysia. Mereka menganggap, pemerintah Indonesia terlalu berlebihan, sedangkan kualitas pekerja rumah Indonesia sering dipertanyakan. PR kepada pemerintah dan para agen, untuk kembali menaikan kualitas para pekerja rumah tangga sebelum pergi ke negara tempat tujuan. Wallahu'alam...


Read more "Rendahnya Kualitas pembantu Indonesia di Malaysia..."

11/06/2009

Request , Trimatra Menikah Dan Bening Berundur

Posting pemanasan, setelah hampir semingggu mendekam dalam penjara kata tapi, rupanya menjadi buruan dalam bahasa kalimat cerita *mulai lebay neh* Gara-gara "gila-gilaan" bermain kata dengan jama'ah facebukiyah. Akhirnya, diriku menjadi gagu dalam bercerita (kwalat sama guru besar mungkin dukun dari Banjarmasin wekekeke...) gara-gara mengingkari janji, membuat janji untuk menulis "Menanti Andaian Janji" Jiah, mulai keder nih :D. Ok, serius-serius.

Gini-gini, kebelakhangan ini, aku sedang menyoroti berita tentang TKI wabil khusus adalah TKW Indonesia, yang ada di Malaysia. Tapi, beberapa postinganku terpaksa aku endapkan dulu, menunggu enakmen2 selanjutnya (weleh2...) maksudnya mah, data2ku gak akurat githu. Yang sudah siap di antaranya adalah, "Rendahnya Kwalitas Pembantu Indonesia Di Malaysia" Terus, juga tentang "Wanita-Wanita Penganiaya" Menyoroti penganiayaan PRT yang identik dengan majikan perempuan. Ini sudah hampir siap tapi, di lihat dari penyusunan bahasanya ko kacau beliau. Makanya, urung untuk aku posting. Satu lagi, sebuah feature yang sedang ku coba menulisnya yaitu, tentang seorang TKW, yang sudah 5 tahun bekerja tapi, tidak di bayar haknya. (memiriskan...)

Nah, karena semua itu masih dalam draft, meskipun ada beberapa yang telah siap tapi, jujur markujur, aku belum berani mempostingnya. Untuk itulah, sementara, aku kembali mengingat-ingat sebuah pesan dari dua orang sahabat mayaku. yaitu, mas Trimatra dan Bening. Kalau mas Trimatra, mungkin dah pada familiar kali yah...??? Tapi, kalau Bening, mungkin banyak yang belum kenal. Kalau yang belum kenal, yah monggo silakan berkenalan :)

Kembali ke pesanan mereka. Beberapa minggu lalu, bahkan dah hampir berbulan, mas Trimatra, memintaku untuk posting tentangnya. Entahlah, mengapa harus diriku. Katanya, karena blogku rame pengunjung (ini gak banget, soalnya, aku dah lama gak BW) gpp deh, sepi atau rame, aku buat aja amanahnya. jadi, apa amanahnya...??? Katanya, mas Trimatra akan segera mengakhiri masa lajangnya jadi, undangannya suruh aku yang nyebarin (tambah gak mudeng, undangannya aja belum ada) :D Dengan siapa dia menikah, mungkin kalau sahabat semua mengikuti aktif blognya, akan mengetahuinya. Sepertinya, dalam posting Tempat Di Mana Aku Membuat Istana, di sana telah di ceritakan. Jadi, sahabat semua, baca lagi yah kisahnya... (mirip kek cerita sinetron hehehe...) Bocorannya, katanya, namanya Rahma Saraswati.

Kebenaran ceritaku semua, harap konfirmasi ke orangnya yah...?? jangan nanya-nanya ma aku Aku khan hanya melakukan amanah :D ngeles mode on. Selamat aja untuk mas Trimatra. Semoga rencanya berjalan seperti yang di inginkannya. Dan Allah selalu melindungi mereka, Insya Allah...

Nah, berbeda denga Trimatra, kalau Bening best prend aku nih, dia mau berundur dari dunia bloger katanya. Entahlah, apa alasannya. Mungkin, dia hendak mengistirahatkan syaraf-syarafnya dan kembali dengan sejuta ide dan tulisan baru. Semoga... Pokoknya, aku akan menunggu kehadiranmu, dalam dunia jagad maya (jiah, bahasamu Naz). keknya, ini dulu yah postingku. Singkat gak padat dan tiada pendapat soalnya, takut tersesat dalam kalimat, takutnya, malah jadi debat :).

Cukup sekian posting singkatku. kembali berbenah diri, untuk mengejar kata di tepian senja Selat Sunda. Siapa yang mau bergabung, silakan bergabung di facebook. Selagi tahan dengan segala "kegilaannya" :) Lupa, sekalian malam nanti BW. Maaf yang belum kukunjungi...



Read more "Request , Trimatra Menikah Dan Bening Berundur..."

10/26/2009

Up-Date Klub Buku Online 3+ Undangan

Berapa lama KBO (Klub Buku Online) mati suri? Sudah hampir tiga bulan sepertinya. Pengasasnya tidur kali :D. Terimakasih kepada sahabat-sahabat bloger yang setia menanyakan dan tetap setia juga mengikuti ketika ku tanyakan. Mohon maaf atas kemalasanku, sehingga terlantar begitu lama. Insya Allah, KBO kembali di adakan memasuki bulan ke 3. Buku yang di bahas masih sama, To Kill a Mokcing Bird. Dan untuk konfrensi YM, Insya Allah akan di adakan pada 21 Nopember 2009, jam 20 WIB. Tidak terlalu cepat bukan? Toh, buku ini sudah di suarakan sejak beberapa bulan lalu. Melalui update kali ini juga, aku kembali mengundang siapa saja yang hendak bergabung di Klub Buku Online. Mungkin ada yang tertanya2 apa sih KBO..??? klik aja beberapa infonya di sini (pengenalan KBO, Buku pertama KBO , resume KBO confrence KBO 2,) .

Syarat mutlak mengikuti Klub Buku Online ini adalah di wajibkan membaca buku yang akan kita bahas dan pastinya, memiliki ID Yahoo Messenger. Karena melalui YMlah kita mengadakan diskusi. Semoga KBO ke tiga akan lebih baik lagi, Insya Allah. Dan, khusus untuk sahabat-sahabat ku, teruntuk Teh Najwa, Wanja Al-Munawar, Damarati Sabda, Hilal, Rama S Rahmat, Anna Aprihati (sahabat Rumah Dunia) Aku harapkan partisipasinya. Juga untuk, Ivonie Zahra dan Mbak Ida Raihan, mbak Rie-Rie (Hongkong) juga berharap partisipasi mereka. Vera Ernawati, Fitri, Ulfa Rizki, Ria Adriani (SMO angkatan ke 5) Ikutan yuks...??? Semuanya, aku akan tag melalui Face book. Owh ya, Elpa juga ikutan yuk? Kalau KBO tetap, aku gak usah absen kali yah...???

Tapi, untuk perkenalan okeh juga mungkin :). KBO terdiri dari para bloger dan pecinta buku (kalau aku pecinta rupiah :D). Kita tersebar dari sabang sampai Merauke yaitu... Susunan KBO, Penanggung jawab, Anazkia, Malaysia. Moderator, Fanda Amnesiana (Malang, bener gak mbak? takut salah nyebut lagi :D), Shinta Nisfuana Bandung, Mbak Quini Jakarta, Jeng Sri Dublin, Inul Surabaya, Henny Palembang, Wina Medan, Ranny Afandy Menado, Buwel tegal, Lilipery Jogja, Mbak Tisti Rabbani Jogja, Trimatra Jogja, teh Lidya Bekasi. Bener semua gak yah aku nyebutnya? kalau salah, silakan pada bawa pentungan. Di gebukin aku ikhlas ko ;)) (soale yakin gak bakalan sampe :D)

Selain para anggota, kita juga punya para suporter lho (jiah, kayak pemain bola ajah) maksudnya mah biar lebih semangat githu. Dan, para supporter kita adalah... para pengunjung setia anazkiablogspot, Mbak Renni, Mbak Elly, Pak Setiawan, Pak Ary, Bang Atta, mas Ivan Kavalera, mbak fanny dll. Duh, malam ini aku full absen, mohon maaf kalau ada yang tak di sebut. Pokoke, jangan lupa baca bukunya. Semangat! :)

Owh ya, aku baru inget, aku juga pengen ngajak mbak Ateh :) ayuk mbak, ikutan KBO? di tunggu :). Mbak Wendy juga yah...??? makasih juga untuk mbak Annie, vitri, mbak Zeta, bening, mbak Sri. Prof Ijo, pokoke banyaklah yang aku gak bisa sebutin satu persatu :(. Semuanya yang dah berkunjung ke blogku lah...



Read more "Up-Date Klub Buku Online 3+ Undangan..."

One Paid Day Off Campaign, Mustahil!

Sebuah penghormatan, ketika pak Ikbal (Presiden Union Migrant) mengirimkan imel kepadaku, untuk mengikuti seminar,"INVITATION FOR THE LAUNCH OF DOMESTIC WORKERS’ CAMPAIGN TOOLKIT & CAPACITY BUILDING" meskipun ia kesalah tatkala beliau menunjukku untuk mewakili dari pihak UNIMIG. Merasa ada waktu, aku menyanggupi untuk pergi. Meskipun, aku yakin tak tahu alamatnya dan tidak tahu apa yang hendak di bicarakan. tapi, membaca butir-butir imel yang di forwardkan, aku sedikit faham. Sekurang-kurangnya ia berkaitan dengan tenaga kerja. Terutama, menyangkut pembantu rumah tangga. Dalam hati kecil, sebetulnya aku ragu, apa aku mempu untuk mengikuti. Secara, membaca forward e-mailnya, ia full menuliskan bahasa Inggris, tak sedikitpun terselit bahasa Melayu. "Jangan-jangan, forumnya berbahasa Inggris juga nih, aku membatin"

Berdasarkan petunjuk sms, alamatnya mudah saja untuk di cari. Shah's Village Hotel, Petaling Jaya. Menaiki Kereta api, melalui lebih kurang 20 stasiun. Dimana setiap stasiun satu dan lainnya lebih kurang memakan waktu 5-7 menit. Tak begitu jauh memang. Sampai di stasiun Taman jaya, Pak Iqbal bilang naik taksi. Maka, dengan tak ragu aku menuju kumpulan para taksi dan langsung menuju ke TKP. Sesampai di depan Shah's Village Hotel, supir taksi memberi petunjuk, katanya, "kalau hendak pulang, jalan saja ke kanan dari arah hotel, di situ adik bisa langsung naik LRT" Jiah... rupanya, dekat saja dari stasiun. Pelajaran pertama mengikuti seminar, "bermula dari kesalahan, kita menjadi tahu" Meskipun aku cengar cengir mentertawakan kebodohanku.

Sampai di lobi Hotel, kembali celingak-celinguk. Lupa mencatat siapa yang mengadakan seminar. Nyoba telfon Pak Ikbal, hpnya sudah off, mungkin beliau sudah menaiki pesawat ke Medan. Maka, bertanyalah kepada recepsionist. Di tanya siapa yang mengadakan, aku asli nyengir kuda. Dasar dudul, mbok yah sebelum pergi itu catet dulu penyelenggara seminar. Beruntung ketika di tunjukan tempatnya, betul. masuk ke ruang seminar, tidak ramai yang datang hanya ada 3 buah meja. Dan, muka-mukanya, Masya Allah. Muka Melayu dikit banget. Asli, langsung jiper! di tanya dari perwakilan mana, Aku bilang mewakili Unimig. panitia menanyakan pak Ikbal, aku bilang beliau ke Medan jadi tidak bisa datang. Sungguh kesalahan besar tatkala pak Ikbal memberikan amanah ini kepadaku.

Di meja pendaftaran, seorang perempuan India menyapa dengan bahasa Inggris, aku hanya membalasnya dengan bahasa Melayu. Masuk saja di dalam, aku duduk bersebelahan dengan perempuan melayu. sebelahnya juga lelaki Melayu dan perempuan berkerudung. Sedang meja sebelahku, kelihatan orang-orang India, China lainnya (setelah kenalan, baru tahu kalau mereka dari Vietnam, Filipina dan Mianmar). pembukaan di mulai, dan hasilnya, menggunakan bahasa inggris, asli, setelah di depan lobi hotel aku berhasil nyengir kuda, di dalam seminar aku kembali mlompong kiong. Wekekeke... mentertawakan kebodohan diri.

Lagi-lagi, aku membatin. pak Ikbal salah mengamanahkan ini kepadaku. Sewaktu perkenalan, aku cuek aja ngomong bahasa Indonesia dan bilang gak bisa ngomong bahasa Inggris (memalukan!) but, aku cuek aja :D secara, aku sedikit-sedikit boleh faham bahasa inggris tapi, kalau suruh ngomong, jangan harap!. Setelah perkenalan, ada break sebentar untuk sarapan, aku duduk-duduk aja di di situ, tanpa keluar. seorang perempuan berwajah China mendekatiku, dan menanyakan serba sedikit tentang UNIMIG juga keterlibatanku di dalamnya, apa aku perwakilan UNIMIG untuk PRT?. (Jiah, aku bilang aje kagak tahu menahu, secara aku ini baru kenal UNIMIG beberapa bulan lalu). ebetulan aja aku mengenali pak Ikbal (sebenernya, pak Ikbal sudah lama menawarkan aku untuk masuk ke UNIMIG. Akunya aja yang males. . Ini memalukan yang keberapa yah?.

Perempuan itu bernama Vivian, tinggi kecil badannya, cantik wajahnya dan lembut tutur katanya. ia mewakili dari CARAM Asia. Sebuah NGO yang bergerak di bidang domestik worker's. Kinerjanya, kalau aku lihat tak jauh beda dengan TELAGANITA (penyelenggara seminar). Yang menarik dari wanita ini, ia memakai t-shirt berwarna oren, di belakangnya bertuliskan, "One Paid Day Off" wah, rupanya ia sedang mengkampanyekan seminggu sekali libur untuk para pekerja domsetic helper. Wah, salut aku. Tapi, aku bener-bener mustahil dengan dengan isu ini. rasanya, ko sulit yah, di aplikasikan? Mengapa...??? to be continue... Dalam seminar ini, aku benar-benar menemukan wajah negeri sebenar Indonesia tentang traficking dan dunia wanita. Sungguh PR yang sangat besar untuk menteri pemberdayaan wanita. (yaelah Naz, mentrinya kagak bakalan baca) Gak ngaruh, yang penting, mbak Elly dan wanita-wanita lainnya baca tulisan ini.

Read more "One Paid Day Off Campaign, Mustahil!..."

10/24/2009

Ucapan Terimakasih Dan Majang Award

Terimakasih banyak, untuk sahabat bloger semua, atas komentarnya juga semangat yang di berikan. Berbagi, memang tak rugi.Dapat semangat baru, juga sahabat baru. Pokoke, terimakasih untuk Pradna (dengan spamernya), Mbak Wendy (juga dengan spamnya), Mbak Elly, Mbak Lidya, Mas Sugeng, Pak Setiawan, Henny, Yunna, Mbak Fanda, Bening, Mbak Tisti, Mbak Fanny, mas tree, Mbak Ateh, Mbak Ranny, Mbak Becce, Phonank, jeng Sri, Wong Jalur, Mbak Annie, Mbak Illa dan Vie_three. Kalau nanti ada komentator baru, ku ucap terimakasih juga hehehe... (GR banget deh).

Terkadang, bahkan sering, aku mengingat sahabat bloger semua, tentang kebiasaannya juga cerita2 di blognya. Nah, kalau bikin kopi, inget mbak Elly, pak Setiawan, Shinta (siapa lagi yang suka kopi?). kalau lihat buku, inget mbak Fanda, Shinta, Mbak Renny, Lilipery dan temen-temen KBO lainnya. Lihat karya sastera. inget mas Ivan Kavalera, lihat ember, inget mpok ratu ;)), lihat warna biru, inget Inul. Lihat tulisan Jogja inget mbak Tisti, lihat orang keseleo inget mbak rennyhalah, pokoke banyaklah. Yang gak di sebut, jangan marah :)

Kembali kepada mengingat, nah di belakang rumah, ada sebatang pohon. Entah ia dari jenis apa. Tapi, buahnya serupa dengan Strowberry. Meskipun pohonnya lebih tinggi karena ia beranting (gambaran strowberry mbak Wendy nih.. wekekeke..) Rasanya, kalau aku bilang pun tak jauh beda, masam2 manis. Meskipun buahnya lebih kurus dari strowberry. Ia tumbuh di dekat jemuran baju. jadi, kalau pas berbuah, senang aja aku mengutipnya dan memakannya di situ sambil menjemur baju. Tanpa di cuci! :D. Anak asuhku juga menyukainya. Nah, kalau lihat pohon itu, aku pasti ingat mbak fanny penggemar stowberry yang baik hati :)

Makasih yah mbak, atas postingannya juga awardnya, juga bukunya :) sengaja aku minta mbak, biar semangat posting, sampai 500. Aku yang sudah dua tahun ngeblog aja belum sampai 300 (ketahuan banget malesnya) jadi, Insya Allah, mau mensupport diri biar bisa posting sampai 500 bahkan, kalau bisa sampai 1000 (Kalau mbak fanny posting sampai 1000, mo kasih apa ke kita2 mbak?) sepertinya, tahun depan sebelum bulan yang sama, mbak sudah mendapatkannya :). Pokoknya, di tunggu postingan yang ke 1000 (lho, ko malah nunggu mbak Fanny, harsunya khan aku) mikir, nunggu berapa tahun yah kalau aku...???.

Inilah posting sesi pajang award dan ucapan terimakasih. Semoga, dengan semangat dari sahabat-sahabat semua betul-betul membawa "ruh" baru dalam diriku. terimakasih ku ucap, semoga yang Kuasa selalu menemukan kita dalam kebaikan. Juga saling mengingatkan, untuk kebaikan. Insya Allah...





Read more "Ucapan Terimakasih Dan Majang Award..."

10/23/2009

Kembali Lebih Awal

Assalamu'alaikum...

Tak di sangka, aku kembali begitu cepat. Padahal, masa itu masih jauh, dua bulan-tiga bulan. Tapi, aku tak dapat berkata apa sahabat. Andai tak kutulis disini, aku pasti akan selalu merasa sendiri dan sepi dalam tangis. back to cerita, aku menutup blog, sebetulnya tiada peristiwa yang istimewa. terimakasih kepada teman2 yang menanyakannya. Begitu besar perhatian sahabat semua. Sedikit berbagi, penutupan blogku, dalam rangka konsentrasi kemalasanku (maksudnya biar gak males). Aku sedang khusu' mengikuti kelas nonfiksi dan berencana membuat tulisan yang lebih serius untuk di bukukan. Tapi, sayang seribu sayang, ternyata, malasku semakin menghadang. Dan, ajaibnya, aku kembali mendapat tantangan yang membuatku berurai-urai kesedihan.

Ini adalah sesi curhat, tentang kesedihan juga kekalahan. tatkala bicara cinta, ia adalah fitrah yang di berikan oleh-Nya. ketika ia jatuh dan terperangkap kepada manusia, aku adalah termasuk di dalamnya. Entah mengapa, aku betul-betul memiliki perasaan lebih untuknya. Sepertinya, ia memiliki perasaan yang sama. Dan sah, ia memang memilikinya. Sedikit kalimat menuju kearah serius. Meskipun masih dalam diam, sering aku memohon kepada-Nya yang menguasai hati manusia yang terbaik adalah mudahkan jalan kami.

Ketika seawal malam tadi, hapeku berdering. Namanya tertera di layar hape, sedikit basa basi bertanya khabar. Cerita mulai beralur, aku sudah menekanya. Kesedihan memasuki rongga tapi, aku masih menahan diri untuk tertawa. Ah, akhirnya kalimat itu keluar juga. Suaraku serak, aku bertahan untuk tidak menangis dan dia mendengarnya. tapi, kerongkonganku tersekat-sekat juga. Akhirnya, perbicaraan itu, lunas sudah. Kita tak sehaluan.

Doaku terjawab sudah. Inilah akhir dari penantian. Deraiku terasa tatkala tak ada lagi sapa dan tanya, baru kurasa kesedihan itu. Allah, ampuni aku yang telah meletakan hati, bukan pada tempatnya. Sungguh, Engkaulah yang berkuasa membolak balikan hati manusia. Dalam terpurukku, ingin kugapai cinta-Mu.

tatkala malam kian beranjak, ketika tak ada siapa lagi yang mampu ku ajak bertukar pendapat. Entah kenapa, aku ingin kembali mengaktifkan blog ini. Bercerita dengan sahabat semua, aku yakin masih ada penyemangat2 dalam hidupku, untuk aku tak terkulai layu. Sahabat, mohon doa tulusmu juga penyemangat untuk aku berdiri kukuh. Betapa indahnya silaturrahmi.

Sekalian majang award sebagai penyemangat, untuk kembali ngeblog yang sudah lama nongkrong di almari. Teruntuk mbak Fanny, di sini, ku pinta award posting 500 mu mbak.. (gak malu banget Naz :D) Soale, aku yakin, kalau aku gak hiatus, bakalan kebagian juga ;)). Rupanya, blog bisa membuatku tertawa :). Ada yang belum terpasang gak awardnya? segera komplain :)


Sebuah award dari empat orang wanita, maaf rolenya tidak saya ikuti. Betapa merasa di hargainya diriku. terimakasih sekali untuk mbak Fanda, Henny, Mbak Annie dan jeng Sri yang telah menghadiahkannya kepadaku. Pada prote gak yah tanpa mengikuti syaratnya? :) Kalau di protes, aku simpen balik dalam almari.

Award pemberian mbak Elly






Award dari mbak Nuraniku



Award dari mbak Reni




Read more "Kembali Lebih Awal..."

10/11/2009

Akhir Dari Pertemuan

Di rantau, aku mengenali seekor kucing. Hitam warnanya, betina kelaminnya. Awalnya, ia hanya sesekali datang. Hanya lewat sekejap, di belakang rumah. Lama kelamaan, ia semakin kerap datang dan aku mulai memberinya makan. Sejak saat itu, ia mulai selalu datang di belakang rumah. Dan aku, masih selalu memberinya makanan. meskipun kadang berebutan dengan ayam-ayam tetangga. Maka, rutinitas memberi makan kepada kucing menjadi jadwal baru untukku.

Kucing itu hanya di luar, tak pernah sekalipun masuk. Tapi, lama-lama, ia berani masuk juga. meskipun hanya nongkrong di dekat meja gosok, atau sekdar tidur menemani aku yang menggosok baju. Aku membiarkannya. Aku tahu, majikanku tidak menykainya. Semakin lama, ia semakin berani. Dan seperti menganggap, itulah rumah baru dia. Dapur, adalah injakkan selanjutnya. Tapi, ia tak pernah masuk ke ruang tengah. Hanya sebatas dapur, dan tempat gosok baju. Keluarga majikanku mulai meributkannya.

Dan, semakin lama, kucing itu semakin berani. Akupun semakin memanjakannya bahkan, sejak saat itu, aku rajin memandikannya. meskipun ia menangis-nangis (mang kucing nangis kek apa yah...???) Dan majikanku, mulai biasa saja dengan kucing tersebut. Pun dengan keluarga lainnya. Bahkan, kita di untungkan, karena, tiada lagi tikus yang berkeliaran di dalam rumah. Sang kucing dah biasa tidur di dalam rumah bahkan, malam hari pun ia tidur dengan lenanya di depan TV.

Waktu berlalu, karena kucing sang betina maka, mengandunlah ia. Dan, terlahirlah dari rahimnya dua ekor kucing. Fiuh.. sungguh menguras kesabaran. Semakin besar anaknya, semakin repot aku di buatnya. mencuci kotorannya, jadi agenda sehari-hari. Kadang aku bersungut kesal. Sudah berulangkali aku letakan sang kucing dan kedua anaknya, ia tetap saja pup dan kecing ke tempat sediakala. Semakin besar, bukan semakin pandai seperti emak kucing, sang anak malah semakin meraja lela. setelah main dari luar, ia dengan enaknya masuk ke dalam rumah untuk pup (herannya, dia kalo pup di tempat cuci piring).

Akhirnya, aku protes dengan majikanku setelah ia mulai pup di kasur. Dan aku, menyuruh majikanku membuang anak-anak kucing tersebut (Anaz sadis! :( Maka, terbuanglah sang anak kucing yang mulai remaja di sebuah pasar. Dan sang emak kucing di tinggal di rumah. Sang emak kucing memang sudah mulai menua, kerjaannya hanya tidur saja. Aku juga mulai jarang mengurusinya. Tak kerap lagi memandikan. Makan pun kadang terbengkalai (duhai kucing, mohon maafkan aku...)

Semakin lama, kucing semakin suka tidur. Dan susah sekali makan. Kalau dulu segala jenis lauk boleh di makannya, sekarang tidak. ia mulai pilih-pilih makanan. Aku sering kesal di buatnya. Dan aku mulai tak peduli. Puncaknya, beberapa hari setelah lebaran kemarin, begitu banyaknya makanan, dia pun enggan menjamahnya (maksudnya, aku letakan di pinggan dia) alhasil, aku semakin cuek ama dia. Dan sejak saat itu, aku mulai jarang melihat kelebatnya. terakhir, dia masuk rumah. Dan ia tidur di bawah meja gosok baju, lama sekali. Tak lagi peduli dengan makan, sebelumnya, ia sudah tercecer pupnya kemana-mana. Padahal, sebelumnya sang emak kucing sangat bijak. Tak pernah pup di rumah.

Aku mulai geram lagi dan berniat ingin membuangnya lagi. Sejak saat itu, aku tak ramah lagi sengannya dia pun sepertinya mulai takut denganku :((. Sampai suatu ketika, ia tak lagi nampak batang hidungnya. Tak juga aku mendengar suaranya. beberapa hari. Aku menunggunya. Aku mencarinya. Aku fikir, dia sudah mendapat majikan baru. Dan dalam hati, bersyukur kalau dapat tempat yang lebih baik.

Sampai suatu ketika, beberapa hari lalu. tatkala aku sedang mengemas dan menyapu ini itu di halaman, aku terbuka pintu sebelah rumah, tercium bau aroma yangs angat busuk. Mataku mencari ke sekitar, dan, rupanya di bawah meja yang penuh dengan barang-barang sang kucing sudah terbujur kaku. Di kelilingi semut-semut dan beberapa lalat. Ya Allah... tak tergambarkan perasaanku. Aku menangis... Ya Allah... betapa jahatnya aku dengan kucing itu. Dengan berat hati, dengan perasaan bercampur baur, aku menggali lubang untuk menguburkannya. Aku sendiri yang mencangkul tanahnya.

Tak terasa, selama menggali lubang, aku terkenang segala sikap jahatku kepadanya. Betapa sedihnya. Betapa naifnya terkadang jiwaku sebagai manusia. bahkan, untuk seekor kucing. Aku menangis.. lebih sedih ketika membayangkan siapa kelak yang akan mencangkulkan tanah pekuburan untukku...??? Ah, air mata itu, dengan murahnya ia mengalir deras. Pun, ketika aku harus mengangkat bangkai sang kucing, juga meletakannya. Sampai disitulah persahabatanku dengannya. Aku yang menguburkannya, aku juga dulu yang sering memarahinya. Inilah akhir dari pertemuan kita... "Kucing, andai kamu tahu rasaku ketika itu..."

Dan, untuk sahabat semua, mohon maaf sedalam-dalamnya. Sebentar lagi, sementara waktu, aku menutup blog ini. Insya Allah, awal januari, atau akhir bulan 12 ia ku aktifkan lagi. Terimakasih kepada semuanya, sahabat-sahabat semua yang ku temu di dunia maya. tak mampu menyebutnya aku satu persatu. Ilmu yang ku temu dari sahabat semua begitu berarti. Semoga Allah kembali menemukan kita lagi dalam kebaikan. Insya Allah... kepada sahabat yang baru berkunjung ke blogku dan aku belum mengunjunginya. Insya Allah, sesegera mungkin aku datang ke rumahnya.


Sang kucing bersama kedua anaknya (sungguh penyesalan itu datang terlambat, andai kita tak membuang anaknya... :((
Read more "Akhir Dari Pertemuan..."
 

Post Terbaru

Followers

Recen Coment